PERENCANAAN PINTU KLEP DI MUARA BATANG MARANSI, SALAH SATU UPAYA PENGENDALIAN BANJIR DI KAWASAN AIR PACAH KOTA PADANG

Zahrul, Umar and Bambang, Istijono and Rifda, Suryani and Syafril, Daus (2016) PERENCANAAN PINTU KLEP DI MUARA BATANG MARANSI, SALAH SATU UPAYA PENGENDALIAN BANJIR DI KAWASAN AIR PACAH KOTA PADANG. PERENCANAAN PINTU KLEP DI MUARA BATANG MARANSI, SALAH SATU UPAYA PENGENDALIAN BANJIR DI KAWASAN AIR PACAH KOTA PADANG. pp. 1-16.

[img]
Preview
Text
PIT_HATHI_Semarang_2016.pdf

Download (8MB) | Preview

Abstract

Adanya ramalan akan terjadinya gempa besar yang diikuti oleh tsunami melanda Kota Padang dalam waktu dekat ini sehingga Pemerintah Kota Padang membuat kebijakan dengan membagi kota padang dalam tiga zona kerentanan tsunami, yaitu kerentanan tsunami tinggi (zona merah), kerentanan tsunami sedang (zona kuning) dan kerentanan tsunami rendah (zona hijau). Kawasan zona merah berada di pinggir pantai hingga 1 km kearah timur kota Padang dan merupakan zona yang sangat rentan dilanda tsunami, zona kuning berada 1 hingga 3 km dan zona hijau lebih dari 3 km dari pinggir pantai kearah timur. Dampak dari kebijakan ini, banyak penduduk yang bermukim di kawasan zona merah pindah ke zona hijau yang lokasinya berada disekitar jalan by pass di kawasan Air Pacah termasuk pusat pemerintahan Kota Padang dan kantor-kantor pemerintah serta swasta lainnya. Sayangnya, lokasi yang digunakan untuk pembangunan kompleks perumahan, perkantoran dan fasilitas umum ini berada pada topografi yang kerendahan dimana pada musim hujan selalu tergenang. seperti yang terjadi tanggal 22 Maret 2016 lalu, kawasan ini dilanda banjir besar yang tingginya 1-2 m. Penyebab banjir ini disamping curah hujan yang tinggi, juga akibat luapan Batang Maransi yang mengalir dalam kawasan ini serta masuknya air banjir dari Batang Balimbing tempat bermuaranya Batang Maransi. Batang Balimbing (orde kedua) dan Batang Maransi (orde ketiga) masih dipengaruhi pasang surutnya air laut dan jika hujan turun dengan intensitas tinggi dan bersamaan terjadinya pasang air laut, maka dapat dipastikan kawasan ini akan mengalami banjir. Hasil perhitungan diperoleh elevasi muka air banjir di muara Batang Maransi = + 3,501 m, sedangkan elevasi muka tanah (lahan) di sekitar Batang Maransi adalah + 1,424 m s/d 2,45 m. Jadi tinggi banjir berkisar antara 1,051 m - 2,077 m. Untuk mengendalikan banjir yang sering terjadi di kawasan ini, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan membangun pintu klep di Batang Balimbing tepatnya di muara Batang Maransi sebanyak 5 buah dengan lebar masing-masing 4 m, sehingga air pasang dan banjir dari Batang Balimbing tidak bisa masuk ke Batang Maransi. Selama pintu klep bekerja, debit banjir Batang Maransi di simpan sementara di badan sungai dan kolam retensi, untuk ini Batang Maransi perlu dinormalisasi dengan lebar (b) = 20 m, kemiringan talud (m) = 1,5 dan dalam (h) = 1,478 m serta pembuatan kolam retensi dengan luas 35 ha dan dalam 2,5 m.

Item Type: Article
Subjects: T Technology > TC Hydraulic engineering. Ocean engineering
Divisions: Fakultas Teknik > Sipil
Depositing User: Mr. Rafiyal Hamdi
Date Deposited: 02 Jul 2019 10:58
Last Modified: 02 Jul 2019 11:10
URI: http://repo.unand.ac.id/id/eprint/23344

Actions (login required)

View Item View Item